Sekarang lagi fokus di satu blog aja!
www.dramakorea-lovers86.blogspot.com (sinopsis Drama Korea)
pindah ke
www.korea-lovers86.blogspot.com (Saranghae-Korea)

Kamsahamnida Chingu!!

Jumat, 18 Juni 2010

Mr.Goodbye (Episode 4)

Sinopsis Mr. Goodbye
Episode 4

"Aku memang mengatakan suka disini. tapi..."

"Kau tidak menyukaiku?" tanya Soo Jin.

"Bukan itu maksudku." ujar Hyun Suh. "Aku hanya..."

"Takut aku akan memakanmu?" tanya Soo Jin. "Sebagai dokter, aku tidak mungkin membahayakan pasienku. Tidak perlu cemas. Aku tidak akan pernah masuk ke kamarmu walau hanya setengah langkah. Aku... akan memastikan kau hidup lebih lama." Soo Jin mengangkat tangannya, tanda berjanji.

Hyun Suh tersenyum.

Young In kelihatan kesal dan bosan setengah mati. Ia bekerja sebagai front liner, tapi dengan seenaknya melepas sepatu dan berjalan mondar-mandir. Resepsionis hanya geleng-geleng kepala melihatnya.

Soo Jin menunjukkan kamar Hyun Suh.

"Biar kuperlihatkan putra kita." kata Soo Jin.

"Putra kita?" tanya Hyun Suh bingung.

Soo Jin membawa Hyun Suh ke kamar Yoon. "Itu adalah putraku, Yoon."

"Yoon? Dengan suamimu yang sebelumnya?" tanya Hyun Suh.

"Bukan." jawab Soo Jin. "Mantan suamiku tidak peduli tentang Yoon. Ia tidak pernah menghubungi sekalipun."

"Pasti sangat melelahkan." kata Hyun Suh. "Membesarkan anak seorang diri."

"Aku sangat senang membesarkannya seorang diri." jawab Soo Jin. "Dan aku sangat bangga. Aku sangat bahagia karena memutuskan untuk melahirkan dia dan menjadi seorang ibu."

Seorang wanita berlari-lari ke arah Young In dengan panik.

"Tolong! Tolong aku!" kata wanita itu, kelabakan. "Tolong bantu aku mencari kancing bajuku!"

"Hah?" gumam Young In bingung.

"Ini pertama kalinya aku akan bertemu ibu calon mertuaku, tapi..." Wanita itu sangat panik dan bicara terburu-buru. "Aku duduk di sofa sana menunggu kekasihku. Kupikir kancingku hilang saat aku menuju toilet. Apa yang harus kulakukan?!"

Young In merangkak di sekeliling untuk membantu wanita itu mencari kancingnya.

Dari atas, Kyle melihatnya dengan bingung.

"Berapa lama lagi waktu yang kau miliki?" tanya Young In.

"Tidak sampai lima menit." jawab wanita itu. "Apa yang harus kulakukan?"

"Ini tidak akan berhasil." kata Young In. Ia berlari ke mejanya dan membuka laci untuk mengambil gunting. Ia menggunting kancing bajunya sendiri dan menyerahkannya pada wanita itu. "Apa kau punya jarum dan benang?"

"Ya, aku akan pergi kesana dan menjahitnya. Siapa namamu?"

"Sudah pergi saja!" kata Young In.

Wanita itu pergi dengan senang.

Kyle mendekati Young In dan melihat kancing kemeja atasnya terlepas. "Sampai kapan kau akan seperti itu?" tanyanya. "Kau ingin berdiri disini dengan penampilan seperti itu?"

"Tidak." jawab Young In, melihat penampilannya yang berantakan.

"Kalau begitu, cepat ganti pakaian."

Young In beranjak pergi.

"Nona, Young In, kerja bagus." ujar Kyle.

Di kamarnya di hotel, Hyun Suh masih kepikiran mengenai tawaran Soo Jin untuk tinggal bersama dirumahnya.

Keesokkan paginya, bel kamar Hyun Suh berbunyi. Dengan kesal karena masih mengantuk, Hyun Suh membukakan pintu dan melihat Young In disana. Tanpa dipersilahkan, Young In nyelonong masuk ke dalam.

"Aku tidak punya keahlian." kata Young In. "Jadi, karena kau aku bisa bekerja di hotel ini?"

Hyun Suh diam.

"Apa aku bisa bekerja disini karena kau?!" ulang Young In keras.

Hyun Suh tetap diam dan membuka lemari es untuk mengambil air. Young In merebut air Hyun Suh dan meminumnya.

"Jika aku bisa bekerja disini dengan bantuanmu, seharusnya kau menempatkan aku diposisi yang lebih baik!" keluh Young In. "Aku benar-benar berharap bisa mendapatkan uang dengan kemampuanku sendiri dan kerja keras."

"Walaupun kau tidak melakukan apapun, tidak apa-apa, tapi lakukanlah dengan benar." ujar Hyun Suh. "Aku akan memberimu gaji bulanan sekitar $60.000 walaupun kau tidak bekerja."

Young In meledak marah. "Maksudmu, kau ingin mengatakan 'tidak peduli apapun, aku akan membayarmu'?" serunya.

"Tidak ada yang berharap kau bisa melakukan banyak disini. Jika kau lelah di tengah jalan, kau boleh berhenti. Kau boleh melakukan apapun yang kau mau." kata Hyun Suh seraya mengisyaratkan agar Young In keluar. Tapi Young in tidak bergerak sama sekali. "Apa kau tidak keberatan jika aku membuka baju? Aku ingin mandi."

"Silahkan saja." kata Young In, menantang. "Kau pikir dirimu hebat?!"

Dengan kesal, Young In keluar dari kamar Hyun Suh. Secara tidak sengaja, resepsionis melihatnya dan berpikiran macam-macam.

Kata-kata Hyun Suh membuat Young In sangat sangat marah. "Tunggu dan lihat saja bagaimana aku akan tinggal dan berakar disini!" tekadnya.

Resepsionis mengajari Young In segala sesuatu mengenai hotel juga bagaimana cara mengucapkan salam dalam bahasa Inggris. Kini, Young In punya tekad untuk belajar. Sesekali, Kyle mengawasi mereka.

"Kenapa memperlakukan aku dengan baik?" tanya Young In. "Orang yang lain sepertinya membenciku. Aku datang dari pintu belakang, kau tidak tahu?"

Resepsionis itu hanya tersenyum dan berjalan mendahului Young In. "Aku tahu apa yang kau lakukan pagi ini." gumamnya pelan.

Young In berjalan mengikuti resepsionis. Tanpa sengaja, ia berpapasan dengan ayahnya, Young Kyu.

"Ah, Pak Kepala!" seru resepsionis. "Ini adalah karyawan baru, Choi Young In. Yang ini adalah Kepala Marketing. Tampan, bukan? Apa yang kau lakukan? Cepat sapa dia!"

Young in tersenyum pahit. Ia menyapa Young Kyu kemudian berjalan pergi.

Young In bersembunyi di dekat tangga dan menangis.

Ketika Young In sedang bekerja dan menjatuhkan buku, Hyun Suh menelepon untuk mengganggunya. Young In tidak tahu kalau Hyun Suh menelepon tidak jauh dari situ.

Tidak lama kemudian Kyle datang dan memperbolehkan Young In beristirahat.

Resepsionis menyebar gosip mengenai Young In dan Hyun Suh.

Ketika Hyun Suh datang, resepsionis itu buru-buru tutup mulut.

Hyun Suh masuk ke ruangannya. Ia orang yang perfeksionis, jadi tidak betah melihat sesuatu yang tidak rapi dan berantakan. Melihat kabel telepon yang melilit membuatnya gatal untuk merapikannya.

Ketika Hyun Suh sedang merapikan kabel-kabel yang saling melilit di bawah meja, tanpa sengaja ia melihat alat penyadap suara kecil disana.

Hyun Suh berpikir sejenak. Ia ragu mengambil penyadap suara itu.

Ketika Young In hendak makan di kantin, para karyawan memandangnya dengan aneh. Di kejauhan, ia melihat ayahnya sedang duduk. Tanpa mengatakan apa-apa, Young In pergi dan mengurungkan niatnya untuk makan di kantin.

Young In berakhir dengan makan mie instan sendirian di supermarket.

Tanpa sengaja, Hyun Suh melihatnya ketika hendak membeli payung karena hujan turun dengan lebat.

Hyun Suh melihat Hyun In. "Aku tidak suka makan sendirian." Hyun Suh teringat Young In pernah berkata.

Setelah menimbang-nimbang sebentar, Hyun Suh memutuskan untuk menyapa dan menemani Young In makan.

Hyun Suh melihat satu mie instan lagi di samping Young In.

"Itu milikku, jangan berani menyentuhnya!" ancam Young In.

Hyun Suh mengambil mie instan itu. "Kau seharusnya memasukkan air panas sampai batas garis ini." katanya protes. "Tapi ini ada dibawah garis." Hyun Suh memasukkan air panas lagi.

"Kenapa kau merasa tidak senang?" tanya Hyun Suh setelah Young In selesai makan. "Yang mana yang terasa gatal?"

"Memangnya kau mau membantuku menggaruk?" tanya Young In.

"Lakukan sendiri!"

"Bagaimana jika aku tidak sampai?" tanya Young In. "Baik, baik aku mengerti. Biar aku garuk sendiri!"

"Turunkan tanganmu!" perintah Hyun Suh seraya membantu Young In menggaruk.

Young In dan Hyun Suh hanya duduk diam menunggu hujan berhenti sampai-sampai tidak menyadari bahwa Soo Jin sudah menelepon beberapa kali.

"Kau suka hujan?" tanya Young In.

"Hujan, salju, aku suka keduanya." jawab Hyun Suh.

"Aku akan membawamu melihat salju lain kali." janji Young In.

"Kapan? Saat musim salju?" tanya Hyun Suh. "Jika kau bisa memperlihatkan salju padaku, aku akan memberimu... $100.000. Kau harus menyiapkan uang $40.000. Aku berhutang $60.000. Jadi $100.000 dikurangi $60.000 tinggal $40.000."

"Baik!"

Dengan kemampuan Kyle yang tinggi, Kang Chul Goon bingung kenapa Kyle bersedia bekerja dan ditempatkan di Seoul. Ditambah lagi, Hyun Suh hanya menempatkan Kyle dibagian pengawas.

Hyun Suh pulang ke rumah Soo Jin. Ia kurang suka melihat ayam yang dipelihara Yoon. Anak kecil saja ia tidak suka apalagi ditambah ayam?

Yoon mengganggu Hyun Suh dengan mengikuti gerakannya. Jika Hyun Suh bertolak pinggang, Yoon akan ikut bertolak pinggang.

Young In kembali ke hotel. Disana, Kyle sedang duduk menjaga meja pengawas.

Saat Young In datang, Kyle beranjak pergi.

"Milikmu ketinggalan!" seru Young In, menyerahkan sebuah buku dengan sampul bertuliskan Nikko Hotel. Kyle diam. "Ini bukan milikmu?"

"Itu adalah jurnal." kata Kyle. "Disana tertulis rahasia laporan hotel. Disana tidak tertulis laporan keberhasilan, hanya kegagalan. Kegagalan akan membuat pembaca berpikir dan menganalisa lagi. Kini buku itu menjadi milikmu."

Kyle berjalan pergi. Young In membuka-buka halaman buku. Semuanya tertulis dalam bahasa Inggris. Tidak satu katapun dalam buku itu bisa dimengerti Young In.

Young In mengejar Kyle. "Ini.. Ini ditulis dalam bahasa Inggris." katanya terengah-engah.

Kyle tidak mau mendengar penjelasan Young In. "Baca buku itu dalam waktu satu bulan dan tulis laporan untukku." Kyle pergi. Ketika membelakangi Young In, ia tersenyum.

Hyun Suh berpikir dan bekerja sampai larut malam. Ia berusaha mencari tahu siapa yang mungkin meletakkan penyadap suara itu dibawah mejanya. Ia teringat percakapan terakhirnya dengan David.

"Aku punya proyek khusus untukmu." kata David. Hotel "Empire tidak tahu kenapa kau datang ke sana. Apa yang kau lakukan, mereka tidak tahu. Mereka tidak boleh tahu."

David memerintahkan Hyun Suh untuk mengawasi hotel dan menyusun lagi sistem manajemennya.

Mendadak Soo Jin mengetuk pintu. Ia menunjukkan sebuah foto lama ketika Hyun Suh mengecup pipinya. "Kenapa kau melakukan itu?"

Hyun Suh tersenyum dan mengangkat bahu.

Young In tidak bisa tidur. Ia mengirim sms ke Hyun Suh. "Karena kau takut hujan lagi, maka kau memberiku payung. Itu sangat menyentuh."

Hyun Suh membalas, "Sangat merepotkan membawanya. Karena itulah aku memberikannya padamu."

Young In kesal. Ia membuka sebuah kotak dan mengeluarkan foto masa kecilnya bersama ayahnya, Young Kyu.

Keesokkan harinya, Kyle datang ke hotel untuk bekerja. Mata resepsionis tertuju padanya, tapi sayang mata Young In tertuju pada Hyun Suh.

Hyun Suh masuk ke kantornya. Ia melihat Sekretaris Wu seedang membersihkan mejanya.

"Apa kau sudah membersihkan ruanganku sejak pagi?" tanya Hyun Suh.

"Ya, Pak." jawab Sekretaris.

"Terima kasih." kata Hyun Suh.

Sekretaruis Wu menyerahkan sebuah amplop pada Hyun Suh. "Disitu hanya tertulis namamu." katanya.

Setelah Sekretarisnya keluar, Hyun Suh membuka amplop itu. Kertas di dalam amplop dilipat dengan lipatan yang biasa digunakan olehnya dan adiknya, Ronny. Isi surat tersebut hanyalah alamat. Apartemen Seoul Villa. Lantai 3. Kamar 102.

"Apa ini?" gumam Hyun Suh.

Hyun Suh langsung menelepon Young In. Tapi saat itu Young In sedang berada di toilet.

Setelah keluar, Hyun Suh mengajaknya bicara.

Tanpa sengaja, mereka berpapasan dengan Gun Young dan kekasihnya.

"Kami datang kemari untuk makan." kata kekasih Gun Young, pamer kemesraan pada Young In. "Ah, kau pakai rok!"

Hyun Suh melihat Young In dan tersenyum tipis.

"Apa kau masih berpacaran dengannya?" tanya Gun Young, menunjuk Hyun Suh. "Dia tidak kelihatan pantas untukmu."

"Ayo." Hyun Suh mengajak Young In pergi.

Young In diam. Kini kesabarannya sudah habis. Young In maju dan mengomeli Gun Young dan kekasihnya habis-habisan. "Aku bukan tipe orang yang mudah melepaskan! Kita merampas disini dan disana! Takut?! Kita sudah bersama sejak lama! Cinta segitiga, hah?! Ayo kita coba!"

"Bagaimana denganku?" tanya Hyun Suh.

"Kau?!" seru Young In. "Kau juga bisa bergabung! Dalam beberapa hari... Tidak, perlahan-lahan aku jatuh cinta padamu. Jadi kau bisa ikut bergabung!"

"Pertunjukkan ini harus diakhiri." Hyun Suh berbisik pada Young In.

"Pertunjukkan?! Tidak, kali ini aku serius!" seru Young In. "Saat di airport memang pura-pura, tapi sekarang tidak. Aku suka padamu." Young In mengatakan itu dengan sangat santai. "Kau membuatku tenang, karena itulah aku menyukaimu. Bagaimana perasaanmu padaku?!"


Bersambung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar